Selasa, 01 Oktober 2019

Critical Review Journal The Role of Accounting Data in Performance Evaluation, Budgetary, Participation, and Organizational Effectiveness


CRITICAL REVIEW JOURNAL INTERNATIONAL
A.    Identitas Jurnal
      1. Judul      : The Role of Accounting Data in Performance Evaluation, Budgetary, Participation, and  Organizational Effectiveness


      2. Jurnal      : Journal of Accounting Research, Vol. 20, No. 1 (Spring, 1982). pp. 12-27
      3. Penulis    : Peter Brownell
B.     Observed Economic / Accounting Event
Hubungan antara gaya dan ukuran kepemimpinan manajerial efektivitas organisasi, seperti kinerja bawahan adalah masalah yang belum terselesaikan dalam penelitian akuntansi manajemen.
C.     Masalah Penelitian
Bahwa belum terselesaikannya hubungan antara gaya dan ukuran kepemimpinan manajerial efektivitas organisasi, seperti kinerja bawahan dalam penelitian akuntansi manajemen.
D.    Pertanyaan Penelitian
1.      Bagaimana hubungan gaya evaluative pengawasan dan partisipasi anggaran yang mempengaruhi kinerja?
2.      Bagaimana hubungan antara gaya evaluative pengawasan dan anggaran partisipasi yang mempengaruhi kepusasan kerja?
E.     Tujuan Penelitian
Penelitian yang dilakukan dalam upaya untuk merekonsiliasi hasil penelitian yang dilakukan Hopwood dan Otley. 
F.      Teori yang dipergunakan
1.      Teori Pengkondisin Operan
2.      Teori Konsistensi
3.      Teori Hasil Penelitain Relevan
G.    Hipotesis Penelitian
H1: Tidak ada interaksi yang signifikan antara gaya evaluative pengawasan dan partisipasi anggaran yang mempengaruhi kinerja.
H2: Tidak ada interaksi yang signifikan antara gaya evaluatif pengawasan dan partisipasi anggaran yang mempengaruhi kepuasan kerja
H.    Metode Penelitian
1.      Penelitian dengan metode kuantitatif deskriptif, metode kuantitatif diperoleh dengan penyebaran kuisioner yang akan memperoleh informasi tentang empat variable, yaitu dua variable independen (gaya asli dan partisipasi anggaran) dan dua variable dependen (kinerja dan kepuasan kerja).
2.      Uji Chi Square
3.      Analisis Hoyt
4.      Teknik Johnson Neyman.
5.      Regresi Statistik kepuasan Berkala
I.        Karakteristik Sampel
Kuesioner diberikan kepada sampel yang terdiri dari 48 manajer dari perusahaab manufaktur San Francisco Bay berdasarkan ketersediaan. Usia rata-rata responden adalah 43,6 tahun dan rata-rata masa kerja responden selama 10,3 tahun.
J.       Metode Sampling
Random Sampling
K.    Statistical Tools
1.      Uji Chi Square
2.      Minnesota Satisfaction Questionnare (MSQ)
3.      Analisis Hoyt
4.      Teknik Johnson Neyman.
5.      Regresi Statistik kepuasan Berkala
L.     Result
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dampak gaya evaluatif pengawasan terhadap kinerja dimoderasi oleh partisipasi anggaran, yang, pada gilirannya, memberikan pengaruh positif yang substansial terhadap kinerja. Karena tidak ada hasil konklusif mengenai kepuasan kerja, diskusi ini terbatas pada pertimbangan hasil terkait kinerja.
Fakta bahwa gaya evaluatif tidak memberikan pengaruh langsung pada kinerja dengan sendirinya tidak mengejutkan. Otley [1978] menunjuk beberapa faktor yang mungkin menjelaskan hasil ini, termasuk jenis pusat pertanggungjawaban yang terlibat (pusat laba-vs-biaya), tingkat dukungan staf, dan kondisi lingkungan spesifik. Hasil saya menunjukkan bahwa partisipasi anggaran adalah pengaruh moderat yang konsisten dengan faktor terakhir Otley. Hayes [1977] telah menunjukkan bahwa informasi akuntansi kurang tepat sebagai elemen fokus dalam kontrol organisasi dengan meningkatnya paparan organisasi, atau subunit itu, ke lingkungan. Hopwood [1973, hlm. 11] membuat argumen yang sama, menunjukkan bahwa ketika paparan lingkungan meningkat, perilaku yang diperlukan untuk mencapai tujuan organisasi semakin berkurang oleh sistem akuntansi formal dan ketergantungan berlebihan pada informasi akuntansi dapat disfungsional dalam kasus-kasus seperti itu. Dalam situasi ini, partisipasi dalam proses penganggaran dapat membantu memastikan bahwa sistem akuntansi formal hanya menangkap informasi fungsional organisasi, melegitimasi penekanan yang lebih berat pada hasil anggaran.
M.   Kesimpulan
Gaya evaluatif pengawasan terhadap kinerja dimoderasi oleh partisipasi anggaran, yang pada gilirannya, memberikan pengaruh positif yang substansial terhadap kinerja, karena tidak ada hasil konklusif mengenai kepuasan kerja, maka gaya evaluatif tidak memberikan pengaruh langsung pada kinerja.
N.    Kelebihan dan Kekurangan Penelitian
1.      Kelebihan Penelitian:
a.       Memberikan sumbangsih ilmu pengetahuan mengenai peran data akuntansi dalam evaluasi kinerja, partisipasi anggaran, dan efektvitas organisasi.
b.      Ide penelitian baik guna merekonsiliasi dari hasil penelitian sebelumnya yaitu penelitian yang telah dilakukan oleh Hopwood dan Otley.
c.       Menambah referensi untuk penelitian selanjutnya secara luas dan mendalam yang berkaitan dengan peran data akuntansi dalam evaluasi kinerja, partisipasi anggaran, dan efektvitas organisasi.
2.      Kekurangan Penelitian:
Sampel diambil secara acak dari satu korporasi, sehingga membatasi generalisasi hasil.













http://e.library.uny.ac.id/

https://www.jstor.org/

Rabu, 28 Agustus 2019

Perbedaan Asuransi Syariah dan Asuransi Konvensional


Perbedaan Asuransi Syariah dan Asuransi Konvensional
Keterangan
Asuransi Syariah
Asuransi Konvensional
Pengawasan Dewan Syariah (PDS)
Adanya Dewan Pengawas Syariah.
Fungsinya mengawasi produk yang dipasarkan dan investasi dana.
Tidak ada.
Akad
Tolong menolong (takafulli)
Jual Beli
Investasi Dana
Investasi dana berdasarkan syariah dengn sistem bagi hasil (Mudharabah)
Investasi dana berdasarkan bunga
Kepemilikan Dana
Dana yang terkumpul dari nasabah (premi) merupakan milik peserta. Perusahaan hanya sebagai pemegang amanah untuk mengelola
Dana yang terkumpul dari nasabah (premi) menjadi milik perusahaan; perusahaan bebas menentukan investasinya.
Pembayaran Klaim
Dari rekening Tabarru’ (dana kebajikan seluruh peserta; sejak awal sudah diikhlaskan oleh peserta untuk keperluan tolong menolong bila terjadi musibah.
Dari rekening dana perusahaan.
Keuntungan (Profit)
Dibagi antara perusahaan dengan peserta sesuai dengan prinsip bagi hasil ( al Mudharabah )
Seluruhnya menjadi milik perusahaan.


Prinsip – prinsip Asuransi Syariah
1.       Sesama muslim saling bertanggung jawab
Kehidupan diantara sesama muslim terikat dalam suatu kaidah yang sama dalam menegakkan nilai – nilai islam. Oleh karena itu kesulitan seorang muslim dalam kehidupan menjadi tanggung jawab sesama muslim. Sebagaimana di firman Allah SWT dalam surat Ali – Imran (3) ayat 103, yang berbunyi, “ Dan perpeganglah kamu semuanya kepd tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai – berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh – musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni’mat Allah orang – orang yang bersaudara; dan kamu telah berada ditepi ujung neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikian Allah menerangkan ayat – ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”
2.       Sesama muslim saling bekerja sama atau bantu – membantu.
Seorang muslim akan  berlaku bijak dalam kehidupan, ia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem kehidupan masyarakat. Oleh karena itu seorang muslim dituntut mampu merasakan dan memikirkan apa yang dirasakan dan dipikirkan saudaranya. Keadaan ini akan menimbulkan sikap saling membutuhkan antara sesama muslim dalam menyelesaikan berbagai masalah.
3.       Sesama muslim saling melindungi penderitaan satu sama lain 
Hubungan sesama muslim tersebut dapat diibaratkan suatu badan, yan apabila salah satu anggota badan terganggu atau kesakitan maka seluruh badan akan ikut merasakan. Maka saling tolong - menolong dan membantu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam sistem kehidupan masyarakat muslim.

Ketentuan Operasi Asuransi Syariah
Dalam menjalankan operasinya asuransi syariah berpegang pada ketentuan – ketentuan berikut :
1)      Akad
a.       Kejelasan akad dalam praktek muamalah merupakan prinsip karena akan menentukan sah atau tidaknya secara syariah.
b.       Syarat dalam transaksi jual beli adalah penjual, pembeli terdapatnya harga, dan barang yang dijualbelikan.
2)      Gharar
a.       Definisi Gharar menurut mazhab Syafii adalah apa – apa yang akibatnya tersembunyi dalam pandangan kita dan akibat paling kita takuti. Apabia tidak lengkap rukun dari akad maka terjadi Gharar. Oleh karena itu ulama berpendapat bahwa akad jual beli atau akad pertukaran harta benda dalam hal ini adalah cacat secara hukum.
b.       Pada asuransi konvensional, terjadi karena tidak ada kejelasa masud alaih (sesuatu yang di akad kan). Yaitu meliputi beberapa sesuatu akan diperoleh (ada atau tidak, besar atau kecil). Tidak diketahui beberapa yang akan dibayarkan, tidak diketahui berapa lama kita harus membayar (karen hanya Allah yayng yang tahu kapan kita meninggal). Karena tidak lengkapnya rukun dari akad maka terjadi Gharar. Oleh karena itu ulama berpendapat bahwa akad jual beli atau akad pertukaran harta benda dalam hal ini adalah cacat secara hukum.
3)      Tabarru’
a.       Tabarru berasal dari kata tabarraa yatabarraa tabarrauan, yang artinya sumbangan atau derma. Orang yang menyumbang disebut Mutabarri (dermawan). Niat Tabarru’ merupakan alternatif uang yang sah dan diperkennkan. Tabarru’ bermaksud memberikn dana kebjikn secara ikhlas untuk tujuan saling membantu satu sama lain sesama peserta takaful, ketika diantara ada yang mendapat musibah.
b.       Tabarru’ didimpan dalam rekening khusus. Apabila ada yang tertimpa musibah, dana klaim yang diberikan adalah dari rekening Tabarru’ yang sudah diniatkan oleh sesama takaful untuk saling menolong.
4)      Maisir
a.       Islam menghindari adanya ketidakjelasan informasi dalam melakukan transaksi. Maisir pada hakikatnya tidak diketahuinya informasi oleh peserta tentang berbagai hal yang berubungan dengan produk yang akan dikonsumsinya.
b.       Dalam mekanisme asuransi syariah keterbukan merupakan akselerasi dari realisasi prinsip – prinsip syariah. Karena tidak ada kepercayaan jika tidak ada keterbukaan dalam informasi. Dalam mekanisme asuransi konvensional, maisir sebagai akibat dari status kepemilikan dana dan ghahar.
5)      Riba
a.       Keberadaan asuransi syariah yang paling substansial disebabkan adanya ketidak adiln dalam asuransi knvensional, msalnya upaya untuk melipat gandakan keuntungan dari praktik yang dilakukan dengan cara yang tidak adil. Semua asuransi konvensional menginvastikan dananya dengan bunga.
b.       Dengan demikian asuransi konvensional selalu melibatkan diri dalam riba. Demikian juga dengan peritungan kepada peserta, dilakukan dengan menghitung keuntungan didepan. Sedangkan takaful menyimpan dananya di bank berdasarkan syariah dengan sistem Mudharabah.
6)      Dana Hangus
a.       Dalam asuransi konvensional adanya dana yang hangus,  dimana peserta yang tidak dapat melanjutkan pembayaran premi dan ingin mengundurkan diri sebelum masa reversing periode, maka dana peserta itu hangus. Demikian pula juga asuransi non tabungan atau asuransi kerugian jika habis masa kontrak dan tidak terjadi klaim. Maka premi yang dibayarkan akan hangus sekaligus menjadi milik pihak asuransi.


REVIEW JURNAL


A.    Identitas Jurnal
1.      Judul Artikel         :  Pengaruh Technology Readiness terhadap
   Penerimaan Teknologi Komputer pada UMKM DI
   Yogyakarta
2.      Nama Jurnal          : Jurnal Economia
3.      Volume                 : 10     
4.      Nomor Jurnal        : 2
5.      Tahun Jurnal         : Oktober 2014
6.      Halaman                : 105- 119
7.      Penulis 1               : Mimin Nur Aisyah
8.      Penulis 2               : Mahendra Adhi Nugroho
9.      Penulis 3               : Endra Murti Sagoro
B.    Masalah Penelitian
Yogyakarta memiliki banyak UMKM terutama yang bergerak di sektor kerajinan dan industri kreatif lainnya. Proses bisnis inti yang didominasi oleh kreativitas, seni dan ketrampilan tampaknya membuat penggunaan teknologi komputer di sektor ini belum optimal. Penggunaan komputer dalam aktivitas operasional usaha cenderung bersifat sukarela (voluntary) sehingga tingkat penggunaannya masih rendah. Faktor kesiapan sumber daya manusia sepertinya juga ikut mempengaruhi keputusan untuk mengadopsi teknologi komputer dalam proses bisnis. Dalam menghadapi persaingan usaha yang semakin ketat, teknologi menjadi salah satu alat yang digunakan untuk mendukung daya saing perusahaan. Hal ini tentu cukup mudah dilakukan oleh perusahaan yang memiliki modal memadai, namun bagi UMKM penggunaan teknologi mungkin belum menjadi prioritas dalam pengembangan usaha.

C.    Tujuan Penelitian
Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengekplorasi pengaruh kesiapan teknologi terhadap persepsi kemanfaatan sistem dan persepsi kemudahan penggunaan sistem serta pengaruh kedua persepsi terhadap teknologi tersebut terhadap minat menggunakan teknologi komputer dalam membantu proses bisnis pada UMKM di Yogyakarta.

D.    Kajian Teori
Dimensi optimism merepresentasikan pandangan positif terhadap teknologi dan persepsi terhadap manfaat teknologi dalam meningkatkan efisiensi pekerjaan dan meningkatkan kinerja seseorang di lingkungan kerja dan di rumah. Orang yang optimis memahami bahwa hal baik dan buruk akan datang silih berganti dalam hidup. Mereka memilih menggunakan waktunya untuk melakukan hal-hal yang bersifat aktif untuk mencapai hasil yang positif dan hal ini memberikan hasil yang lebih efektif dibandingkan orang-orang yang pesimis. Orang-orang yang optimis cenderung mampu mencegah dirinya dari stress dan kekhawatiran atas pengalaman buruk dan risiko yang mungkin terjadi atas sesuatu hal. Ketika berhadapan dengan teknologi baru, optimisme menyebabkan seseorang berpikir positif terhadap hasil yang akan didapat dan terhindar dari kekhawatiran atas hasil negatif yang mungkin timbul dari penggunaan teknologi baru (Walczuch et al, 2007).
Orang-orang yang memiliki sikap optimis percaya bahwa ada manfaat yang akan selalu hadir dalam kemunculan teknologi baru, misalnya kenyamanan, fleksibilitas waktu, mobilitas, dan stimulasi (www.technoreadymarketing.com). Dengan demikian, optimisme akan membuat seseorang lebih mudah merasakan manfaat dari teknologi baru dan menganggap teknologi baru mudah untuk digunakan. Berdasarkan kajian tersebut diajukan hipotesis sebagai berikut.
H1a: Optimism terhadap teknologi berpengaruh positif terhadap persepsi kemudahan penggunaan teknologi.
H1b: Optimism terhadap teknologi berpengaruh positif terhadap persepsi manfaat penggunaan teknologi.
Dimensi innovativeness mengacu pada tingkat dimana seseorang senang bereksperimen dengan teknologi dan menjadi yang terdepan dalam usaha mencoba produk atau jasa berbasis teknologi yang terbaru. “Innovation” dirumuskan sebagai “suatu idea, praktik, atau objek yang dianggap baru oleh individu atau unit pengguna lainny” (Rogers, 1995:11) sedangkan “Innovativeness” didefinisikan sebagai “tingkat dimana individu atau unit pengguna lain menggunakan ide-ide baru relatif lebih awal dibandingkan dengan anggota lain dari sistem tersebut” (Rogers, 1995: 22). Agarwal dan Prasad (1998: 206) mendefinisikan personal innovativeness in IT (PIIT) sebagai “tingkat kesediaan individu untuk mencoba segala macam teknologi baru”. PIIT dipandang sebagai suatu sifat/karakter yang akan mempengaruhi penerimaan dan penggunaan sistem melalui hubungannya dengan persepsi atas teknologi.
Dengan asumsi mereka memiliki kompetensi teknis terkait teknologi, orang-orang yang memiliki tingkat personal innovativeness yang tinggi diharapkan akan menjadi pengguna awal dari suatu teknologi karena mereka memiliki kendala yang lebih kecil dalam menguasai teknologi baru. Yi et al (2006) juga melaporkan bahwa para pengguna awal yang memiliki tingkat inovasi tinggi tersebut tampaknya memahami manfaat teknologi baru sehingga merasa percaya diri terhadap hasil dari penggunaan teknologi baru tersebut dan tak sungkan mengkomunikasikannya dengan orang lain. Berdasarkan kajian tersebut diajukan hipotesis sebagai berikut.
H2a: Innovativeness terhadap teknologi berpengaruh positif terhadap persepsi kemudahan penggunaan teknologi.
H2b: Innovativeness terhadap teknologi berpengaruh positif terhadap persepsi manfaat penggunaan teknologi.
Dimensi discomfort menunjukkan rasa kurangnya penguasaan teknologi dan rasa tidak percaya diri dalam menggunakan teknologi terbaru. Orang-orang yang merasa kurang nyaman dengan teknologi umumnya adalah orang-orang yang merasa kesulitan dalam menggunakan teknologi karena kurangnya penguasaan teknis terhadap teknologi tersebut. Mereka terkadang membutuhkan bantuan dalam mengoperasikan teknologi baru serta cenderung memilih teknologi yang sederhana. Ketidak-nyamanan membuat orang pesimis dan tidak inovatif; teknologi baru cenderung dianggap kompleks dan menimbulkan persepsi bahwa teknologi tidak akan cukup mudah untuk digunakan. Sesuai dengan temuan Walczuch et al (2007), penelitian ini tidak mengharapkan adanya hubungan antara dimensi discomfort dengan persepsi kemanfaatan teknologi. Ketidaknyamanan seseorang terhadap teknologi tidak berhubungan dengan persepsinya terhadap kemanfaatan suatu teknologi. Berdasarkan kajian tersebut diajukan hipotesis sebagai berikut.
H3a: Discomfort terhadap teknologi berpengaruh negatif terhadap persepsi kemudahan penggunaan teknologi.
H3b: Discomfort terhadap teknologi tidak berpengaruh terhadap persepsi manfaat penggunaan teknologi.
Meskipun ada hubungannya dengan dimensi discomfort yang menunjukkan ketidaknyamanan terhadap teknologi secara umum, tetapi dimensi insecurity lebih mengacu pada ketidakpercayaan terhadap transaksi berbasis teknologi dan keraguan terhadap kemampuan kerja teknologi tersebut.Orang–orang yang memiliki rasa ketidak-amanan (insecurity) terhadap teknologi akan cenderung menghindari teknologi tersebut dan tidak akan berusaha untuk mencari tahu atau mencoba teknologi baru kecuali dalam kondisi terpaksa.
Teknologi dianggap sebagai sesuatu yang kompleks dan kurang bersahabat. Orang-orang seperti ini menginginkan adanya jaminan terhadap rasa aman dan privasi sebelum menggunakan teknologi baru. Ada rasa skeptis atau bahkan ketidakpercayaan bahwa suatu teknologi baru akan memberikan manfaat bagi penggunanya. Hal ini tentu saja akan menghambat penggunaan teknologi baru oleh golongan ini. Berdasarkan kajian tersebut diajukan hipotesis sebagai berikut.
H4a: Insecurity terhadap teknologi berpengaruh negatif terhadap persepsi kemudahan penggunaan teknologi.
H4b: Insecurity terhadap teknologi berpengaruh negatif terhadap persepsi manfaat penggunaan teknologi.
Dua dimensi pertama dari technology readiness yaitu optimism dan innovativeness merupakan “kontributor” yang dapat meningkatkan kesiapan terhadap penggunaan teknologi sementara dua dimensi lainnya yakni discomfort dan insecurity dianggap sebagai “penghambat” yang dapat menekan tingkat kesiapan terhadap teknologi (Pasuraman dan Colby dalam Ling dan Moi, 2007).Sesuai dengan argumen dalam TAM dan penelitian lain yang relevan, penelitian ini juga menghipotesiskan pengaruh persepsi kemudahan penggunaan teknologi (perceived ease of use) terhadap kemanfaatan penggunaan teknologi (perceived usefulness). Kemudahan dalam menggunakan teknologi menyebabkan berkurangnya usaha dan sumber daya untuk mengoperasikan teknologi tersebut sehingga lebih banyak sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk aktivitas produktif lainnya (Davis, 1989; Lewis et al, 2003). Dengan demikian, individu akan menganggap teknologi tersebut bermanfaat.
H5: Persepsi kemudahan penggunaan teknologi berpengaruh positif terhadap persepsi manfaat penggunaan teknologi.
Selanjutnya, sesuai dengan konsep dasar TAM yang sudah teruji melalui berbagai penelitian, ketika teknologi dianggap bermanfaat dan mudah digunakan maka akan timbul minat (behavior intention) untuk menggunakan teknologi tersebut.
H6a: Persepsi kemudahan penggunaan teknologi berpengaruh positif terhadap minat menggunakan teknologi.
H6b: Persepsi manfaat penggunaan teknologi berpengaruh positif terhadap minat

E.     Metode Penelitian
1.      Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian causal study yang bertujuan untuk menjelaskan hubungan antarvariabel yang diteliti, dalam hal ini adalah pengaruh antara technology readiness terhadap persepsi kemanfaatan sistem (perceived of usefulness) dan persepsi kemudahan penggunaan sistem (perceived ease of use) serta pengaruh persepsi kemanfaatan sistem (perceived of usefulness) dan persepsi kemudahan penggunaan sistem (perceived ease of use) terhadap minat menggunakan (behavioral intention) teknologi komputer pada UMKM di Yogyakarta.Penelitian dilakukan dengan metode survey.
Populasi/Sampel Penelitiannya
Sampel penelitian ini sejumlah 498 UMKM yang terdaftar di Disperindagkop Yogyakarta.
2.      Teknik Pengumpulan Datanya
Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling. Data diperoleh menggunakan kuesioner. Ukuran sampel minimum ditentukan dengan jumlah variabel latent yang paling kompleks dikalikan dengan 10 (Gefen, et al. 2000) dan dengan melakukan analisis power secara priori. Analisis powerpriori menggunakan nilai 0,80 dengan alpha 0,05 cukup untuk penelitian bisnis (Hair et al., 1995). Analisis power bertujuan untuk menghindari error statistik tipe 1 dan tipe 2 (Erdfelder, et al. 1996). Ukuran efek (effect size) pada sebagian besar aplikasi paling tidak “small” (Cohen, 1977, 1988 dalam Erdfelder, et al. 1996) untuk memperoleh signifikansi praktis. Ukuran efek mengukur derajat keberadaan fenomena yang sedang diteliti pada populasi (Hair el al., 1995). Dengan kata lain, semakin kecil keyakinan peneliti terhadap kemampuan sampel menangkap fenomena pada populasi maka ukuran efek yang digunakan semakin kecil pula. Hair et al. (1995) memaparkan ukuran efek yang digunakan Cohen (1988) dalam kategori “small”, medium” dan “large” dengan nilai 0.2, 0.5 dan 0.8. Analisispower dilakukan dengan harapan mampu meningkatkan kekuatan hasil signifikansi uji. Technology readiness diukur dengan menggunakan 36 item pertanyaan terdiri dari komponen optimism (10 item), innovativeness (7 item), discomfort (10 item) dan insecurity (9 item). Instrument ini diadaptasi dari Parasuraman seperti yang terdapat dalam Walczuch et al (2007) dengan skala Likert 1-7.Persepsi kemanfaatan sistem (perceived of usefulness) diukur dengan menggunakan 6 item pertanyaan dengan skala Likert 1-7 yang diadaptasi dari Davis (1989).Persepsi kemudahan penggunaan sistem (perceived ease of use) diukur dengan menggunakan 6 item pertanyaan dengan skala Likert 1-7 yang diadaptasi dari Davis (1989).Minat menggunakan (behavioral intention) diukur dengan menggunakan 3 item pertanyaan dengan skala Likert 1-7 yang diadaptasi dari Davis (1989) sebagaimana digunakan dalam Yi et al (2006).

Validitas instrumen diuji menggunakan validitas konvergen dan validitas diskriminan. Konstruk dianggap memenuhi validitas konvergen jika nilai rata-rata varian (Average Variance Extracted – AVE) mempunyai nilai lebih dari 0,5 mempunyai loading factor minimal 0,60 dan idelanya 0,70 atau lebih (Chin, 1998). Validitas konvergen penelitian ini menggunakan loading paling tidak 0,60 untuk analisis data dan memiliki nilai communality paling tidak 0.5. Konstruk dianggap memenuhi validitas diskriminan jika nilai loading antara variabel laten dengan indikatornya lebih tinggi daripada loading indikator tersebut dengan variabel laten lain. Validitas diskriminan dalam analisis PLS terpenuhi jika nilai korelasi indikator suatu konstruk memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan dengan korelasi indikator tersebut dengan konstruk lain (cross loading).

3.      Uji Coba Penelitian
Uji instrumen menunjukkan bahwa seluruh loading memiliki nilai lebih dari 0.6. Nilai AVE minimal dari semua variabel memiliki nilai terendah > 0.5 sedangkan nilai tertinggi menunjukkan nilai 0,8. Di samping itu, nampak bahwa nilai communality dari semua variabel tidak ada yang lebih rendah dari 0,05. Dari seluruh hasil uji tersebut menunjukkan bahwa seluruh instrumen memenuhi syarat validitas konvergen. Untuk menguji validitas diskriminan, digunakan uji crossloading yang hasilnya menunjukkan bahwa nilai loading antara indikator dan kontruk memiliki nilai yang lebih tinggi daripada nilai dengan kontruk lain. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa instrumen yang digunakan telah memenuhi syarat validitas baik validitas konvergen mauapun validitas diskriminan.




4.      Teknik Analisis Data termasuk Pengujian Hipotesis
Analisis data dan uji hipotesis menggunakan model Partial-Least-Square (PLS).
Pada analisis menggunakan PLS reliabilitas dilihat dari hasil nilai composite reliability nilai hubungan antar variabel dengan dimensi pengukur lebih dari 0,7 dan dengan menggunakan Cronbach’s alpha minimal 0,7 (Hair et al., 1995). Dalam menentukan reliabilitas variabel, nilai composite reliability lebih baik digunakan dalam teknik PLS (Werts, et. al; 1974 dalam Salisbury et al; 2002). Hasil uji reliabilitas menunjukkan bahwa hampir semua varibel mempunyai nilai cronbachs alpha dan composite reliability > 0,7. Hanya ada satu variabel yang memiliki nilai cronbachs alpha
<        0,7; meskipun demikian, composite reliability-nya memiliki nilai > 0,7 sehingga instrumen tersebut dapat memenuhi syarat reliabilitas.
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini dijawab dengan menggunakan model
Partial-Least-Square (PLS). Penggunaan PLS cocok untuk prediksi dan membangun teori, dan sampel yang dibutuhkan relatif kecil, minimum 10 kali item konstruk yang paling komplek (Ghozali, 2011). Keuntungan lain dari penggunaan PLS yang diungkapkan oleh Ho, Ang dan Straub (2003) adalah: (1) PLS mengestimasi ukuran model pada validitas dan reliabilitas ukuran, dan (2) dengan menggunakan indikator dari konstruk latent, PLS menghasilkan parameter dari model struktural yang menguji kekuatan dari hubungan yang dihipotesiskan. Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis second order pada PLS. Untuk menguji hipotesis yang diajukan, peneliti menggunakan model pada Gambar 1.
Gambar 1. Model Penelitian




F.      Hasil Penelitian
Tabel 1. Deskripsi responden
Penggunaan Komputer
Ya
260
52%
Tidak
225
45%
Tidak Menjawab
13
3%
Total
498
100%
Dukungan Pemerintah
Ya
93
19%
Tidak
387
78%
Tidak Menjawab
18
4%
Total
498
100%
Penggunaan Komputer oleh Pesaing
Ya
248
50%
Tidak
201
40%
Tidak Menjawab
49
10%
Total
498
100%

Tabel 1 menyajikan data deskriptif responden yang dibagi berdasarkan penggunaan teknologi komputer, dukungan pemerintah terhadap penggunaan teknologi komputer, dan penggunaan komputer oleh pesaing. Dari tabel nampak jelas bahwa lebih dari separuh responden (52%) telah menggunakan komputer dalam proses bisnis yang mereka jalankan. Jumlah tersebut relatif seimbang dengan penggunaan teknologi komputer yang dilakukan oleh pesaing dalam usaha yang sejenis. Meskipun penggunaan komputer untuk proses usaha cukup signifikan, dukungan pemerintah dalam mendorong responden untuk menggunakan komputer cukup rendah. Hanya 19% responden yang merasa pemerintah mendukung dalam penggunaan teknologi komputer dalam proses bisnis.

Dari hasil analisis deskriptif tersebut dapat dikatakan bahwa tingkat adopsi teknologi komputer oleh pelaku UMKM (responden) di Yogyakarta belum cukup
tinggi. Hampir separuh (45%) responden belum/tidak mengadopsi teknologi
komputer untuk proses bisnis sementara dukungan pemerintah cukup rendah
sebagaimana ditunjukkan oleh 78% responden yang merasa pemerintah tidak
mendukung penggunaan teknologi komputer oleh UMKM.
Gambar 2. Model Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis menggunakan pendekatan Partial Least Square (PLS) dengan memasukkan seluruh indikator dengan kontruk ke dalam satu model pengujian. Model pengujian hipotesis disajikan pada gambar 2. Penentuan penerimaan hipotesis didasarkan pada nilai t dari output yang diperoleh.

Tabel 2. Hasil Uji Hipotesis
Dari tabel 2 ini dapat dilihat bahwa hampir seluruh uji memiliki nilai t > 1,64 pada uji hipotesis penelitian. Sebagian besar variabel yang diuji memiliki hubungan yang positif danberpengaruh signifikan dengan nilai t>1,64 kecuali pada hubungan antara Innovativeness dengan Percived Usefulness yang hanya memiliki nilai t sebesar 0,83. Hubungan variabel Discomfort dengan Percieved Ease of Use dan Discomfort dengan Percieved Usefulneess memiliki hubungan negatif dengan nilai t secara berurutan 0,17 dan 0,08 (<1,64). Selain itu hubungan Insecurity dengan Percieve Ease of Use juga mempunyai nilai t yang sangat rendah (0,05). Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa sebagian hipotesis yang diuji dapat didukung (H1a, H1b, H2a, H3b, ,H5, H6a, H6b) sedangkan H2b, H3a, H4a, dan H4b tidak didukung.
G.    Implikasi Penelitian (Jelaskan Implikasi dan Saran Penelitian)
1.      Implikasi Penelitian
Dalam menguji pengaruh optimism terhadap persepsi atas teknologi peneliti mengajukan dua hipotesis yaitu: H1a: Optimism terhadap teknologi berpengaruh positif terhadap persepsi kemudahan penggunaan teknologi, dan H1b: Optimism terhadap teknologi berpengaruh positif terhadap persepsi manfaat penggunaan teknologi. Kedua hipotesis tersebut didukung oleh hasil penelitian. Dukungan tersebut menunjukkan bahwa optimisme individu dapat mendorong seseorang untuk mengadopsi suatu teknologi. Bagi pelaku UMKM, hal tersebut jugaberdampak pada keputusan perusahaan untuk mengadopsi teknologi komputer. Sikap optimis bahwa penggunaan komputer dalam kegiatan usahanya akan mampu memberikan manfaat dan kemudahan operasional serta berkontribusi pada laba usaha akan mendorong implementasi teknologi komputer oleh pelaku/pemilik UMKM.Hasil uji hipotesis ini senada dengan penelitian yang dilakukan oleh Walczuch et al, (2007) yang juga memiliki simpulan sama dengan penelitian ini. Walczuch et al, (2007) juga menyatakan bahwa optimisme mempunyai pengaruh yang cukup kuat pada persepsi pemanfaatan dan persepsi kemudahan penggunaan teknologi.
Pengaruh Innovativeness terhadap persepsi atas teknologi diuji melalui H2a:
Innovativeness terhadap teknologi berpengaruh positif terhadap persepsi kemudahan penggunaan teknologi, dan H2b: Innovativeness terhadap teknologi berpengaruh positif terhadap persepsi manfaat penggunaan teknologi. Hipotesis 2a (H2a) didukung oleh hasil uji sedangkan hipotesis 2b (H2b) tidak didukung. Dukungan terhadap H2a senada dengan penelitian Yi et al (2006) yang menunjukkan bahwa tingginya tingkat inovasi individu mendukung tingkat adopsi suatu teknologi. Penelitian ini menunjukkan tingkat inovasi personal merupakan faktor yang kuat dalam persepsi kemudahan suatu teknologi. H2b yang menunjukkan hubungan positif antara innovativeness dengan persepsi manfaat tidak didukung oleh hasil uji yang telah dilakukan. Penolakan hipotesis ini dapat disebabkan oleh mayoritas responden bergerak dalam usaha kerajinan yang memiliki konten teknologi yang rendah dalam menjalankan proses bisnis utamanyanya. Rendahnya konten teknologi dibuktikan dengan pemakaian teknologi komputer masih cukup rendah (52%) sebanding dengan jumlah pesaing yang juga menggunakan teknologi komputer untuk berkompetisi (50%). Dengan demikian, konten teknologi responden untuk menjalankan bisnis tidak memegang peran yang cukup signifikan yang berdampak pada persepsi manfaat teknologi komputer untuk menjalankan bisnis.
Pengujian pengaruh Discomfort terhadap persepsi atas teknologi dilakukan dengan mengajukan dua hipotesis yaitu: H3a: Discomfort terhadap teknologi berpengaruh negatif terhadap persepsi kemudahan penggunaan teknologi dan H3b: Discomfort terhadap teknologi tidak berpengaruh terhadap persepsi manfaat penggunaan teknologi. Hasil uji menunjukkan bahwa hipotesis 3a (H3a) tidak didukung sedangkan hipotesis 3b (H3b) didukung. Dukungan terhadap hipotesis sesuai dengan hasil penelitian Walczuch et al, (2007) yang menunjukkan bahwa orang yang kurang nyaman akan mempunyai kecenderungan tidak akan berpersepsi terhadap manfaat penggunaan teknologi.Hasil uji yang menunjukkan penolakan hipotesis 3a (H3a) menunjukkan hubungan yang negatif, searah dengan hipotesis, meskipun tidak dapat disimpulkan berpengaruh negatif karena pengaruhnya tidak signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun responden merasa tidak nyaman dengan komputer mereka masih cenderung berpersepsi bahwa menggunakan teknologi komputer adalah mudah. Dari data analisis deskriptif dapat dilihat bahwa rendahnya dukungan pemerintah (19%) tidak mempengaruhi penggunaan teknologi komputer pada reponden (50% responden menggunakan komputer). Di samping itu, penolakan terhadap H3a juga dapat disebabkan oleh kurang spesifiknya aplikasi yang dinilai sehingga memungkinkan terjadi distorsi pada penilaian responden mengenai kemudahan penggunaan teknologi komputer. Beragamnya aplikasi yang dikuasai dan digunakan oleh responden dapat mempengaruhi persepsi kemudahan. Dalam penelitian ini, peneliti tidak mengontrol aplikasi yang digunakan oleh responden sehingga dimungkinkan responden merasa tidak nyaman pada penggunaan aplikasi X namun merasa mudah menggunakan aplikasi Y. Perbedaan tersebut dapat berpengaruh terhadap hasil akhir persepsi responden.
Secara prinsip, yang diajukan dalam menguji pengaruh Insecurity terhadap persepsi atas teknologi adalah pengaruh negatifnya pada persepsi kemudahan dan manfaat dari teknologi. Hipotesis yang diajukan adalah H4a: Insecurity terhadap teknologi berpengaruh negatif terhadap persepsi kemudahan penggunaan teknologi, dan H4b: Insecurity terhadap teknologi berpengaruh negatif terhadap persepsi manfaat penggunaan teknologi. Kedua hipotesis yang diajukan tidak berhasil didukung. Hasil uji terhadap H4a menunjukkan hasil negatif tidak signifikan sedangkan hasil uji H4b menunjukkan hasil kontras dari hipotesis yang diajukan yaitu menunjukkan hasil positif dan signifikan. Hasil tersebut menunjukkan fenomena yang bertolak belakang dari penelitian terdahulu yang dilakukan Walczuch et al (2007) dan Ling dan Moi (2007) yang menunjukkan bahwa variabel insecurity mempunyai pengaruh negatif terhadap persepsi terhadap teknologi.Fenomena perbedaan hasil ini dapat dimungkinkan karena pada penelitian terdahulu menggunakan sampel pada adopsi teknologi yang tidak melibatkan unsur persaingan yang kuat. Walczuch et al (2007) menggunakan sampel dari pegawai dalam penggunaan aplikasi (teknologi) pada suatu perusahan yang tidak berpengaruh terhadap prestasi seseorang sedangkan Ling dan Moi (2007) menggunakan mahasiswa untuk mengetahui kesiapan dalam mengadopsi e-learning. Dua kondisi tersebut tidak memiliki unsur persaingan yang mengharuskan penggunaan teknologi untuk memenangkan kompetisi. Berbeda dengan penelitian terdahulu yang digunakan untuk membangun konstruk, penelitian ini menggunakan sampel unit usaha yang bertujuan untuk memperoleh laba. Dengan demikian, pencapaian laba merupakan tujuan utama dari responden penelitian ini sehingga meskipun suatu inovasi (termasuk teknologi) berisiko (insecure) akan tetap diadopsi selama inovasi tersebut dianggap bermanfaat.
Pengaruh persepsi kemudahan penggunaan teknologi terhadap persepsi manfaat diuji menggunakan hipotesis H5 yaitu persepsi kemudahan penggunaan teknologi berpengaruh positif terhadap persepsi manfaat penggunaan teknologi. Hasil uji menunjukkan pengaruh positif dan signifikan antara kedua variabel tersebut. Hal tersebut memperkuat penelitian terdahulu yang menunjukkan hasil serupa. Kontruk kemudahan dan manfaat penggunaan teknologi yang telah dikenalkan Davis (1989) telah banyak divalidasi oleh penelitian setelahnya. Penelitian ini ikut memperkuat bukti hubungan antara kontruk kedua variabel tersebut.
Persepsi kemudahan dan manfaat suatu teknologi telah dibuktikan oleh banyak peneliti terdahulu. Logika hubungan antara kemudahan dan manfaat terhadap minat penggunaan dapat dikatakan merupakan kontruk lazim di berbagai konsep disiplin ilmu. Untuk menguji pengaruh persepsi terhadap teknologi terhadap minat menggunakan teknologi, penelitian ini mengajukan dua hiptesis yaitu: H6a: Persepsi kemudahan penggunaan teknologi berpengaruh positif terhadap minat menggunakan teknologi, dan H6b: Persepsi manfaat penggunaan teknologi berpengaruh positif terhadap minat menggunakan teknologi. Hasil uji menunjukkan bahwa semua kontruk yang diuji memperlihatkan hubungan positif dan signifikan. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Davis, (1989) dan Lewis et al, (2003).
2.      Saran Penelitian
Peneliti selanjutnya diharapkan memilih sampel lebih bervariatif dari berbagai sektor industri dan dipisahkan berdasar segmen industri agar fenomena yang ditangkap lebih detail. Penerapan konsep kesiapan dalam mengadopsi teknologi hendaknya memperhatikan kompleksitas usaha dan tekanan dari pesaing sehingga dapat menjelaskan penyebab suatu usaha mengadopsi teknologi atau tidak.



H.    Hasil Review
1.      Kelebihan Jurnal
Ø  Jurnal disajikan menggunakan metode penelitian yang baik, lengkap dan rinci.
Ø  Abstrak mampu menggambarkan secara jelas mengenai tujuan penelitian, metodologi, dan hasil yang didapatkan.
Ø  Jurnal mencantumkan kata kunci
Ø  Dengan diadakan penelitian ini, bertambah ilmu pengetahuan terkait dengan bagaimana pengaruh kesiapan teknologi terhadap persepsi kemanfaatan sistem dan persepsi kemudahan penggunaan sistem serta pengaruh kedua persepsi terhadap teknologi tersebut terhadap minat menggunakan teknologi komputer dalam membantu proses bisnis pada UMKM di Yogyakarta.
2.      Kelemahan Jurnal
Ø  Sampel yang diambil kurang bervariatif dari berbagai sektor UMKM.
Sebagian besar responden penelitian ini bergerak dibidang kerajinan yang bermuatan teknologi rendah, teknologi komputer yang disebutkan tidak merujuk pada suatu aplikasi tertentu sehingga memperkuat kelemahan metode kuisioner yang bersifat selft-reportdan dapat menyebabkan distorsi persepsi responden atas suatu isu. Penelitian ini tidak membedakan sektor industri dan tidak memperhatikan variabel persaingan usaha dan tekanan kompetitor dalam pengambilan keputusan bisnis. Pengambilan keputusan adopsi teknologi juga tidak diperhatikan dalam penelitian ini.
Ø  Penelitan tidak memperhatikan/membedakan ukuran dan kompleksitas usaha responden.
Peneliti selanjutnya diharapkan memilih sampel lebih bervariatif dari berbagai sektor industri dan dipisahkan berdasar segmen industri agar fenomena yang ditangkap lebih detail. Penerapan konsep kesiapan dalam mengadopsi teknologi hendaknya memperhatikan kompleksitas usaha dan tekanan dari pesaing sehingga dapat menjelaskan penyebab suatu usaha mengadopsi teknologi atau tidak.
Ø  Terdapat bahasa yang berbelit – belit sehingga sulit untuk mencerna kata – kata yang ada.
Ø  Terdapat kalimat yang tidak menggunakan spasi
Ø  Saran yang terdapat hanya saran mengenai penelitian yang dilakukan selanjutnya, tidak terdapat saran terhadap bagaimana teknologi seharusnya kemudian diterapkan pada umkm di Yogyakarta.
Ø  Penulis tidak memberi solusi terkait penelitian yang dilakukan.




http://library.uny.ac.id
https://journal.uny.ac.id