A.
Identitas
Jurnal
1. Judul
Artikel : Pengaruh Technology Readiness terhadap
Penerimaan Teknologi Komputer pada UMKM DI
Yogyakarta
2. Nama
Jurnal : Jurnal Economia
3. Volume : 10
4. Nomor
Jurnal : 2
5. Tahun
Jurnal : Oktober 2014
6. Halaman : 105- 119
7. Penulis
1 : Mimin Nur Aisyah
8. Penulis
2 : Mahendra Adhi Nugroho
9. Penulis
3 : Endra Murti Sagoro
B. Masalah
Penelitian
Yogyakarta
memiliki banyak UMKM terutama yang bergerak di sektor kerajinan dan industri
kreatif lainnya. Proses bisnis inti yang didominasi oleh kreativitas, seni dan ketrampilan
tampaknya membuat penggunaan teknologi komputer di sektor ini belum optimal.
Penggunaan komputer dalam aktivitas operasional usaha cenderung bersifat
sukarela (voluntary) sehingga tingkat
penggunaannya masih rendah. Faktor kesiapan sumber daya manusia sepertinya juga
ikut mempengaruhi keputusan untuk mengadopsi teknologi komputer dalam proses
bisnis. Dalam menghadapi persaingan usaha yang semakin ketat, teknologi menjadi
salah satu alat yang digunakan untuk mendukung daya saing perusahaan. Hal ini
tentu cukup mudah dilakukan oleh perusahaan yang memiliki modal memadai, namun
bagi UMKM penggunaan teknologi mungkin belum menjadi prioritas dalam
pengembangan usaha.
C.
Tujuan
Penelitian
Penelitian
yang dilakukan bertujuan untuk mengekplorasi pengaruh kesiapan teknologi terhadap persepsi kemanfaatan sistem
dan persepsi kemudahan penggunaan sistem serta pengaruh kedua persepsi terhadap
teknologi tersebut terhadap minat menggunakan teknologi komputer dalam membantu
proses bisnis pada UMKM di Yogyakarta.
D. Kajian Teori
Dimensi
optimism merepresentasikan pandangan
positif terhadap teknologi dan persepsi terhadap manfaat teknologi dalam
meningkatkan efisiensi pekerjaan dan meningkatkan kinerja seseorang di
lingkungan kerja dan di rumah. Orang yang optimis memahami bahwa hal baik dan
buruk akan datang silih berganti dalam hidup. Mereka memilih menggunakan
waktunya untuk melakukan hal-hal yang bersifat aktif untuk mencapai hasil yang
positif dan hal ini memberikan hasil yang lebih efektif dibandingkan
orang-orang yang pesimis. Orang-orang yang optimis cenderung mampu mencegah
dirinya dari stress dan kekhawatiran atas pengalaman buruk dan risiko yang
mungkin terjadi atas sesuatu hal. Ketika berhadapan dengan teknologi baru,
optimisme menyebabkan seseorang berpikir positif terhadap hasil yang akan
didapat dan terhindar dari kekhawatiran atas hasil negatif yang mungkin timbul
dari penggunaan teknologi baru (Walczuch et al, 2007).
Orang-orang
yang memiliki sikap optimis percaya bahwa ada manfaat yang akan selalu hadir
dalam kemunculan teknologi baru, misalnya kenyamanan, fleksibilitas waktu,
mobilitas, dan stimulasi (www.technoreadymarketing.com). Dengan demikian,
optimisme akan membuat seseorang lebih mudah merasakan manfaat dari teknologi
baru dan menganggap teknologi baru mudah untuk digunakan. Berdasarkan kajian
tersebut diajukan hipotesis sebagai berikut.
H1a:
Optimism terhadap teknologi
berpengaruh positif terhadap persepsi kemudahan penggunaan teknologi.
H1b:
Optimism terhadap teknologi
berpengaruh positif terhadap persepsi manfaat penggunaan teknologi.
Dimensi
innovativeness mengacu pada tingkat
dimana seseorang senang bereksperimen dengan teknologi dan menjadi yang
terdepan dalam usaha mencoba produk atau jasa berbasis teknologi yang terbaru.
“Innovation” dirumuskan sebagai
“suatu idea, praktik, atau objek yang dianggap baru oleh individu atau unit
pengguna lainny” (Rogers, 1995:11) sedangkan “Innovativeness” didefinisikan sebagai
“tingkat dimana individu atau unit pengguna lain menggunakan ide-ide baru
relatif lebih awal dibandingkan dengan anggota lain dari sistem tersebut”
(Rogers, 1995: 22). Agarwal dan Prasad (1998: 206) mendefinisikan personal innovativeness in IT (PIIT)
sebagai “tingkat kesediaan individu
untuk mencoba segala macam teknologi baru”. PIIT dipandang sebagai suatu
sifat/karakter yang akan mempengaruhi penerimaan dan penggunaan sistem melalui
hubungannya dengan persepsi atas teknologi.
Dengan
asumsi mereka memiliki kompetensi teknis terkait teknologi, orang-orang yang
memiliki tingkat personal innovativeness yang tinggi diharapkan
akan menjadi pengguna awal dari suatu
teknologi karena mereka memiliki kendala yang lebih kecil dalam menguasai teknologi
baru. Yi et al (2006) juga melaporkan bahwa para pengguna awal yang memiliki
tingkat inovasi tinggi tersebut tampaknya memahami manfaat teknologi baru
sehingga merasa percaya diri terhadap hasil dari penggunaan teknologi baru
tersebut dan tak sungkan mengkomunikasikannya dengan orang lain. Berdasarkan
kajian tersebut diajukan hipotesis sebagai berikut.
H2a:
Innovativeness terhadap teknologi
berpengaruh positif terhadap persepsi kemudahan penggunaan teknologi.
H2b:
Innovativeness terhadap teknologi berpengaruh
positif terhadap persepsi manfaat penggunaan teknologi.
Dimensi
discomfort menunjukkan rasa kurangnya
penguasaan teknologi dan rasa tidak percaya diri dalam menggunakan teknologi
terbaru. Orang-orang yang merasa kurang nyaman dengan teknologi umumnya adalah
orang-orang yang merasa kesulitan dalam menggunakan teknologi karena kurangnya
penguasaan teknis terhadap teknologi tersebut. Mereka terkadang membutuhkan
bantuan dalam mengoperasikan teknologi baru serta cenderung memilih teknologi
yang sederhana. Ketidak-nyamanan membuat orang pesimis dan tidak inovatif;
teknologi baru cenderung dianggap kompleks dan menimbulkan persepsi bahwa
teknologi tidak akan cukup mudah untuk digunakan. Sesuai dengan temuan Walczuch
et al (2007), penelitian ini tidak mengharapkan adanya hubungan antara dimensi discomfort dengan persepsi kemanfaatan
teknologi. Ketidaknyamanan seseorang terhadap teknologi tidak berhubungan
dengan persepsinya terhadap kemanfaatan suatu teknologi. Berdasarkan kajian
tersebut diajukan hipotesis sebagai berikut.
H3a:
Discomfort terhadap teknologi
berpengaruh negatif terhadap persepsi kemudahan penggunaan teknologi.
H3b:
Discomfort terhadap teknologi tidak
berpengaruh terhadap persepsi manfaat penggunaan teknologi.
Meskipun
ada hubungannya dengan dimensi discomfort
yang menunjukkan ketidaknyamanan terhadap teknologi secara umum, tetapi dimensi
insecurity lebih mengacu pada
ketidakpercayaan terhadap transaksi berbasis teknologi dan keraguan terhadap
kemampuan kerja teknologi tersebut.Orang–orang yang memiliki rasa
ketidak-amanan (insecurity) terhadap
teknologi akan cenderung menghindari teknologi tersebut dan tidak akan berusaha
untuk mencari tahu atau mencoba teknologi baru kecuali dalam kondisi terpaksa.
Teknologi
dianggap sebagai sesuatu yang kompleks dan kurang bersahabat. Orang-orang
seperti ini menginginkan adanya jaminan terhadap rasa aman dan privasi sebelum
menggunakan teknologi baru. Ada rasa skeptis atau bahkan ketidakpercayaan bahwa
suatu teknologi baru akan memberikan manfaat bagi penggunanya. Hal ini tentu
saja akan menghambat penggunaan teknologi baru oleh golongan ini. Berdasarkan
kajian tersebut diajukan hipotesis sebagai berikut.
H4a:
Insecurity terhadap teknologi
berpengaruh negatif terhadap persepsi kemudahan penggunaan teknologi.
H4b:
Insecurity terhadap teknologi
berpengaruh negatif terhadap persepsi manfaat penggunaan teknologi.
Dua
dimensi pertama dari technology readiness yaitu optimism dan innovativeness merupakan
“kontributor” yang dapat meningkatkan kesiapan terhadap penggunaan teknologi
sementara dua dimensi lainnya yakni discomfort
dan insecurity dianggap sebagai
“penghambat” yang dapat menekan
tingkat kesiapan terhadap teknologi (Pasuraman dan Colby dalam Ling dan Moi,
2007).Sesuai dengan argumen dalam TAM dan penelitian lain yang relevan,
penelitian ini juga menghipotesiskan pengaruh persepsi kemudahan penggunaan
teknologi (perceived ease of use)
terhadap kemanfaatan penggunaan teknologi (perceived
usefulness). Kemudahan dalam menggunakan teknologi menyebabkan berkurangnya
usaha dan sumber daya untuk mengoperasikan teknologi tersebut sehingga lebih
banyak sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk aktivitas produktif lainnya
(Davis, 1989; Lewis et al, 2003). Dengan demikian, individu akan menganggap
teknologi tersebut bermanfaat.
H5:
Persepsi kemudahan penggunaan teknologi berpengaruh positif terhadap persepsi
manfaat penggunaan teknologi.
Selanjutnya,
sesuai dengan konsep dasar TAM yang sudah teruji melalui berbagai penelitian,
ketika teknologi dianggap bermanfaat dan mudah digunakan maka akan timbul minat
(behavior intention) untuk
menggunakan teknologi tersebut.
H6a:
Persepsi kemudahan penggunaan teknologi berpengaruh positif terhadap minat
menggunakan teknologi.
H6b:
Persepsi manfaat penggunaan teknologi berpengaruh positif terhadap minat
E.
Metode
Penelitian
1.
Jenis
Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian causal study yang bertujuan
untuk menjelaskan hubungan antarvariabel yang diteliti, dalam hal ini adalah
pengaruh antara technology readiness terhadap persepsi kemanfaatan sistem (perceived of usefulness) dan persepsi kemudahan penggunaan sistem (perceived ease of use) serta pengaruh
persepsi kemanfaatan sistem (perceived of
usefulness) dan persepsi kemudahan penggunaan sistem (perceived ease of use) terhadap minat menggunakan (behavioral intention) teknologi komputer pada UMKM di Yogyakarta.Penelitian dilakukan dengan metode survey.
Populasi/Sampel
Penelitiannya
Sampel penelitian ini sejumlah 498 UMKM
yang terdaftar di Disperindagkop Yogyakarta.
2.
Teknik
Pengumpulan Datanya
Teknik
pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling. Data diperoleh
menggunakan kuesioner. Ukuran sampel minimum ditentukan dengan jumlah variabel
latent yang paling kompleks dikalikan dengan 10 (Gefen, et al. 2000) dan dengan melakukan analisis power secara priori.
Analisis powerpriori menggunakan nilai 0,80 dengan alpha 0,05 cukup untuk penelitian bisnis (Hair et al., 1995). Analisis power bertujuan untuk menghindari error
statistik tipe 1 dan tipe 2 (Erdfelder, et
al. 1996). Ukuran efek (effect size)
pada sebagian besar aplikasi paling tidak “small” (Cohen, 1977, 1988 dalam
Erdfelder, et al. 1996) untuk
memperoleh signifikansi praktis. Ukuran efek mengukur derajat keberadaan
fenomena yang sedang diteliti pada populasi (Hair el al., 1995). Dengan kata lain, semakin kecil keyakinan peneliti
terhadap kemampuan sampel menangkap fenomena pada populasi maka ukuran efek
yang digunakan semakin kecil pula. Hair et
al. (1995) memaparkan ukuran efek
yang digunakan Cohen (1988) dalam
kategori “small”, medium” dan “large” dengan nilai 0.2, 0.5 dan 0.8. Analisispower dilakukan dengan harapan mampu
meningkatkan kekuatan hasil signifikansi uji. Technology readiness diukur dengan menggunakan 36 item pertanyaan terdiri dari komponen optimism (10 item), innovativeness (7 item),
discomfort (10 item) dan insecurity (9 item). Instrument ini
diadaptasi dari Parasuraman seperti yang terdapat dalam Walczuch et al (2007)
dengan skala Likert 1-7.Persepsi kemanfaatan sistem (perceived of usefulness)
diukur dengan menggunakan 6 item
pertanyaan dengan skala Likert 1-7 yang diadaptasi dari Davis (1989).Persepsi
kemudahan penggunaan sistem (perceived
ease of use) diukur dengan
menggunakan 6 item pertanyaan dengan
skala Likert 1-7 yang diadaptasi dari Davis (1989).Minat menggunakan (behavioral intention) diukur dengan
menggunakan 3 item pertanyaan dengan skala Likert 1-7 yang diadaptasi dari
Davis (1989) sebagaimana digunakan dalam Yi et al (2006).
Validitas
instrumen diuji menggunakan validitas konvergen dan validitas diskriminan.
Konstruk dianggap memenuhi validitas konvergen jika nilai rata-rata varian (Average Variance Extracted – AVE)
mempunyai nilai lebih dari 0,5 mempunyai loading
factor minimal 0,60 dan idelanya 0,70
atau lebih (Chin, 1998). Validitas konvergen penelitian ini menggunakan loading paling tidak 0,60 untuk analisis
data dan memiliki nilai communality paling tidak 0.5. Konstruk
dianggap memenuhi validitas diskriminan jika nilai loading antara variabel laten dengan indikatornya lebih tinggi
daripada loading indikator tersebut
dengan variabel laten lain. Validitas diskriminan dalam analisis PLS terpenuhi
jika nilai korelasi indikator suatu konstruk memiliki nilai lebih tinggi
dibandingkan dengan korelasi indikator tersebut dengan konstruk lain (cross loading).
3.
Uji
Coba Penelitian
Uji instrumen menunjukkan
bahwa seluruh loading memiliki nilai lebih dari 0.6. Nilai AVE minimal dari
semua variabel memiliki nilai terendah > 0.5 sedangkan nilai tertinggi
menunjukkan nilai 0,8. Di samping itu, nampak bahwa nilai communality dari
semua variabel tidak ada yang lebih rendah dari 0,05. Dari seluruh hasil uji tersebut
menunjukkan bahwa seluruh instrumen memenuhi syarat validitas konvergen. Untuk
menguji validitas diskriminan, digunakan uji crossloading yang hasilnya
menunjukkan bahwa nilai loading
antara indikator dan kontruk memiliki nilai yang lebih tinggi daripada nilai
dengan kontruk lain. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa instrumen yang
digunakan telah memenuhi syarat validitas baik validitas konvergen mauapun
validitas diskriminan.
4.
Teknik
Analisis Data termasuk Pengujian Hipotesis
Analisis data dan uji
hipotesis menggunakan model Partial-Least-Square (PLS).
Pada
analisis menggunakan PLS reliabilitas dilihat dari hasil nilai composite reliability nilai hubungan antar variabel dengan dimensi pengukur lebih dari 0,7 dan dengan menggunakan Cronbach’s alpha minimal 0,7 (Hair et al., 1995). Dalam menentukan
reliabilitas variabel, nilai composite reliability lebih baik digunakan dalam
teknik PLS (Werts, et. al; 1974 dalam Salisbury et al; 2002). Hasil uji
reliabilitas menunjukkan bahwa hampir semua varibel mempunyai nilai cronbachs
alpha dan composite reliability > 0,7. Hanya ada satu variabel yang memiliki
nilai cronbachs alpha
<
0,7; meskipun demikian,
composite reliability-nya memiliki nilai > 0,7 sehingga instrumen tersebut
dapat memenuhi syarat reliabilitas.
Hipotesis
yang diajukan dalam penelitian ini dijawab dengan menggunakan model
Partial-Least-Square
(PLS). Penggunaan PLS cocok untuk prediksi dan
membangun teori, dan sampel yang dibutuhkan relatif kecil, minimum 10 kali item
konstruk yang paling komplek (Ghozali, 2011). Keuntungan lain dari penggunaan
PLS yang diungkapkan oleh Ho, Ang dan Straub (2003) adalah: (1) PLS
mengestimasi ukuran model pada validitas dan reliabilitas ukuran, dan (2)
dengan menggunakan indikator dari konstruk latent, PLS menghasilkan parameter
dari model struktural yang menguji kekuatan dari hubungan yang dihipotesiskan.
Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis second order pada PLS.
Untuk menguji hipotesis yang
diajukan, peneliti menggunakan model pada Gambar 1.
Gambar 1. Model Penelitian
F.
Hasil Penelitian
Tabel 1.
Deskripsi responden
Penggunaan Komputer
|
Ya
|
260
|
52%
|
Tidak
|
225
|
45%
|
Tidak Menjawab
|
13
|
3%
|
Total
|
498
|
100%
|
Dukungan Pemerintah
|
Ya
|
93
|
19%
|
Tidak
|
387
|
78%
|
Tidak Menjawab
|
18
|
4%
|
Total
|
498
|
100%
|
Penggunaan Komputer oleh Pesaing
|
Ya
|
248
|
50%
|
Tidak
|
201
|
40%
|
Tidak Menjawab
|
49
|
10%
|
Total
|
498
|
100%
|
Tabel
1 menyajikan data deskriptif responden yang dibagi berdasarkan penggunaan
teknologi komputer, dukungan pemerintah terhadap penggunaan teknologi komputer,
dan penggunaan komputer oleh pesaing. Dari tabel nampak jelas bahwa lebih dari
separuh responden (52%) telah menggunakan komputer dalam proses bisnis yang
mereka jalankan. Jumlah tersebut relatif seimbang dengan penggunaan teknologi
komputer yang dilakukan oleh pesaing dalam usaha yang sejenis. Meskipun
penggunaan komputer untuk proses usaha cukup signifikan, dukungan pemerintah
dalam mendorong responden untuk menggunakan komputer cukup rendah. Hanya 19%
responden yang merasa pemerintah mendukung dalam penggunaan teknologi komputer
dalam proses bisnis.
Dari hasil analisis deskriptif tersebut dapat dikatakan bahwa
tingkat adopsi teknologi komputer oleh pelaku UMKM (responden) di Yogyakarta
belum cukup
tinggi. Hampir separuh (45%) responden belum/tidak mengadopsi teknologi
komputer untuk proses bisnis sementara dukungan pemerintah cukup rendah
sebagaimana ditunjukkan oleh 78% responden yang merasa pemerintah tidak
mendukung penggunaan teknologi komputer oleh UMKM.
Gambar 2. Model Pengujian Hipotesis
Pengujian
hipotesis menggunakan pendekatan Partial Least Square (PLS) dengan memasukkan
seluruh indikator dengan kontruk ke dalam satu model pengujian. Model pengujian
hipotesis disajikan pada gambar 2. Penentuan penerimaan hipotesis didasarkan
pada nilai t dari output yang diperoleh.
Tabel 2. Hasil Uji Hipotesis
Dari
tabel 2 ini dapat dilihat bahwa hampir seluruh uji memiliki nilai t > 1,64
pada uji hipotesis penelitian. Sebagian besar variabel yang diuji memiliki
hubungan yang positif danberpengaruh signifikan dengan nilai t>1,64 kecuali
pada hubungan antara Innovativeness dengan Percived Usefulness yang hanya
memiliki nilai t sebesar 0,83. Hubungan variabel Discomfort dengan Percieved
Ease of Use dan Discomfort dengan Percieved Usefulneess memiliki hubungan
negatif dengan nilai t secara berurutan 0,17 dan 0,08 (<1,64). Selain itu
hubungan Insecurity dengan Percieve Ease of Use juga mempunyai nilai t yang
sangat rendah (0,05). Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa sebagian
hipotesis yang diuji dapat didukung (H1a, H1b, H2a, H3b, ,H5, H6a, H6b)
sedangkan H2b, H3a, H4a, dan H4b tidak didukung.
G.
Implikasi
Penelitian (Jelaskan Implikasi dan Saran Penelitian)
1. Implikasi
Penelitian
Dalam menguji pengaruh optimism terhadap persepsi atas
teknologi peneliti mengajukan dua hipotesis yaitu: H1a: Optimism terhadap teknologi berpengaruh positif terhadap persepsi kemudahan penggunaan teknologi, dan H1b:
Optimism terhadap teknologi berpengaruh positif terhadap persepsi manfaat
penggunaan teknologi. Kedua hipotesis tersebut didukung oleh hasil penelitian.
Dukungan tersebut menunjukkan bahwa optimisme individu dapat mendorong
seseorang untuk mengadopsi suatu teknologi. Bagi pelaku UMKM, hal tersebut
jugaberdampak pada keputusan perusahaan untuk mengadopsi teknologi komputer.
Sikap optimis bahwa penggunaan komputer dalam kegiatan usahanya akan mampu
memberikan manfaat dan kemudahan operasional serta berkontribusi pada laba
usaha akan mendorong implementasi teknologi komputer oleh pelaku/pemilik
UMKM.Hasil uji hipotesis ini senada dengan penelitian yang dilakukan oleh
Walczuch et al, (2007) yang juga memiliki simpulan sama dengan penelitian ini.
Walczuch et al, (2007) juga menyatakan bahwa optimisme mempunyai pengaruh yang
cukup kuat pada persepsi pemanfaatan dan persepsi kemudahan penggunaan
teknologi.
Pengaruh
Innovativeness terhadap persepsi atas
teknologi diuji melalui H2a:
Innovativeness terhadap
teknologi berpengaruh positif
terhadap persepsi kemudahan penggunaan teknologi, dan H2b: Innovativeness
terhadap teknologi berpengaruh positif terhadap persepsi manfaat penggunaan
teknologi. Hipotesis 2a (H2a) didukung oleh hasil uji sedangkan hipotesis 2b
(H2b) tidak didukung. Dukungan terhadap H2a senada dengan penelitian Yi et al
(2006) yang menunjukkan bahwa tingginya tingkat inovasi individu mendukung
tingkat adopsi suatu teknologi. Penelitian ini menunjukkan tingkat inovasi
personal merupakan faktor yang kuat dalam persepsi kemudahan suatu teknologi.
H2b yang menunjukkan hubungan positif antara innovativeness dengan persepsi manfaat tidak didukung oleh hasil uji yang telah dilakukan. Penolakan
hipotesis ini dapat disebabkan oleh mayoritas responden bergerak dalam usaha
kerajinan yang memiliki konten teknologi yang rendah dalam menjalankan proses
bisnis utamanyanya. Rendahnya konten teknologi dibuktikan dengan pemakaian
teknologi komputer masih cukup rendah (52%) sebanding dengan jumlah pesaing
yang juga menggunakan teknologi komputer untuk berkompetisi (50%). Dengan
demikian, konten teknologi responden untuk menjalankan bisnis tidak memegang
peran yang cukup signifikan yang berdampak pada persepsi manfaat teknologi
komputer untuk menjalankan bisnis.
Pengujian
pengaruh Discomfort terhadap persepsi
atas teknologi dilakukan dengan mengajukan dua hipotesis yaitu: H3a: Discomfort terhadap teknologi
berpengaruh negatif terhadap persepsi kemudahan penggunaan teknologi dan H3b: Discomfort terhadap teknologi tidak berpengaruh terhadap persepsi manfaat penggunaan
teknologi. Hasil uji menunjukkan bahwa hipotesis 3a (H3a) tidak didukung
sedangkan hipotesis 3b (H3b) didukung. Dukungan terhadap hipotesis sesuai
dengan hasil penelitian Walczuch et al, (2007) yang menunjukkan bahwa orang
yang kurang nyaman akan mempunyai kecenderungan tidak akan berpersepsi terhadap
manfaat penggunaan teknologi.Hasil uji yang menunjukkan penolakan hipotesis 3a
(H3a) menunjukkan hubungan yang negatif, searah dengan hipotesis, meskipun
tidak dapat disimpulkan berpengaruh negatif karena pengaruhnya tidak
signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun responden merasa tidak nyaman
dengan komputer mereka masih cenderung berpersepsi bahwa menggunakan teknologi
komputer adalah mudah. Dari data analisis deskriptif dapat dilihat bahwa
rendahnya dukungan pemerintah (19%) tidak mempengaruhi penggunaan teknologi
komputer pada reponden (50% responden menggunakan komputer). Di samping itu,
penolakan terhadap H3a juga dapat disebabkan oleh kurang spesifiknya aplikasi yang
dinilai sehingga memungkinkan terjadi distorsi pada penilaian responden mengenai
kemudahan penggunaan teknologi komputer. Beragamnya aplikasi yang dikuasai dan
digunakan oleh responden dapat mempengaruhi persepsi kemudahan. Dalam
penelitian ini, peneliti tidak mengontrol aplikasi yang digunakan oleh responden
sehingga dimungkinkan responden merasa tidak nyaman pada penggunaan aplikasi X
namun merasa mudah menggunakan aplikasi Y. Perbedaan tersebut dapat berpengaruh
terhadap hasil akhir persepsi responden.
Secara
prinsip, yang diajukan dalam menguji pengaruh Insecurity terhadap persepsi atas teknologi adalah pengaruh
negatifnya pada persepsi kemudahan dan manfaat dari teknologi. Hipotesis yang
diajukan adalah H4a: Insecurity
terhadap teknologi berpengaruh negatif terhadap persepsi kemudahan penggunaan
teknologi, dan H4b: Insecurity
terhadap teknologi berpengaruh negatif terhadap persepsi manfaat penggunaan
teknologi. Kedua hipotesis yang diajukan tidak berhasil didukung. Hasil uji
terhadap H4a menunjukkan hasil negatif tidak signifikan sedangkan hasil uji H4b
menunjukkan hasil kontras dari hipotesis yang diajukan yaitu menunjukkan hasil
positif dan signifikan. Hasil tersebut menunjukkan fenomena yang bertolak
belakang dari penelitian terdahulu yang dilakukan Walczuch et al (2007) dan
Ling dan Moi (2007) yang menunjukkan bahwa variabel insecurity mempunyai
pengaruh negatif terhadap persepsi terhadap teknologi.Fenomena perbedaan hasil
ini dapat dimungkinkan karena pada penelitian terdahulu menggunakan sampel pada
adopsi teknologi yang tidak melibatkan unsur persaingan yang kuat. Walczuch et
al (2007) menggunakan sampel dari pegawai dalam penggunaan aplikasi (teknologi)
pada suatu perusahan yang tidak berpengaruh terhadap prestasi seseorang
sedangkan Ling dan Moi (2007) menggunakan mahasiswa untuk mengetahui kesiapan
dalam mengadopsi e-learning. Dua kondisi tersebut tidak memiliki unsur
persaingan yang mengharuskan penggunaan teknologi untuk memenangkan kompetisi.
Berbeda dengan penelitian terdahulu yang digunakan untuk membangun konstruk,
penelitian ini menggunakan sampel unit usaha yang bertujuan untuk memperoleh
laba. Dengan demikian, pencapaian laba merupakan tujuan utama dari responden
penelitian ini sehingga meskipun suatu inovasi (termasuk teknologi) berisiko (insecure) akan tetap diadopsi selama
inovasi tersebut dianggap bermanfaat.
Pengaruh
persepsi kemudahan penggunaan teknologi terhadap persepsi manfaat diuji
menggunakan hipotesis H5 yaitu persepsi kemudahan penggunaan teknologi
berpengaruh positif terhadap persepsi manfaat penggunaan teknologi. Hasil uji
menunjukkan pengaruh positif dan signifikan antara kedua variabel tersebut. Hal
tersebut memperkuat penelitian terdahulu yang menunjukkan hasil serupa. Kontruk
kemudahan dan manfaat penggunaan teknologi yang telah dikenalkan Davis (1989)
telah banyak divalidasi oleh penelitian setelahnya. Penelitian ini ikut
memperkuat bukti hubungan antara kontruk kedua variabel tersebut.
Persepsi
kemudahan dan manfaat suatu teknologi telah dibuktikan oleh banyak peneliti
terdahulu. Logika hubungan antara kemudahan dan manfaat terhadap minat penggunaan
dapat dikatakan merupakan kontruk lazim di berbagai konsep disiplin ilmu. Untuk
menguji pengaruh persepsi terhadap teknologi terhadap minat menggunakan
teknologi, penelitian ini mengajukan dua hiptesis yaitu: H6a: Persepsi
kemudahan penggunaan teknologi berpengaruh positif terhadap minat menggunakan
teknologi, dan H6b: Persepsi manfaat penggunaan teknologi berpengaruh positif
terhadap minat menggunakan teknologi. Hasil uji menunjukkan bahwa semua kontruk
yang diuji memperlihatkan hubungan positif dan signifikan. Hasil ini sejalan
dengan penelitian yang dilakukan Davis, (1989) dan Lewis et al, (2003).
2. Saran
Penelitian
Peneliti
selanjutnya diharapkan memilih sampel lebih bervariatif dari berbagai sektor
industri dan dipisahkan berdasar segmen industri agar fenomena yang ditangkap
lebih detail. Penerapan konsep kesiapan dalam mengadopsi teknologi hendaknya
memperhatikan kompleksitas usaha dan tekanan dari pesaing sehingga dapat
menjelaskan penyebab suatu usaha mengadopsi teknologi atau tidak.
H.
Hasil
Review
1. Kelebihan
Jurnal
Ø Jurnal
disajikan menggunakan metode penelitian yang baik, lengkap dan rinci.
Ø Abstrak
mampu menggambarkan secara jelas mengenai tujuan penelitian, metodologi, dan
hasil yang didapatkan.
Ø Jurnal
mencantumkan kata kunci
Ø Dengan
diadakan penelitian ini, bertambah ilmu pengetahuan terkait dengan bagaimana pengaruh
kesiapan teknologi terhadap persepsi kemanfaatan sistem dan persepsi kemudahan
penggunaan sistem serta pengaruh kedua persepsi terhadap teknologi tersebut
terhadap minat menggunakan teknologi komputer dalam membantu proses bisnis pada
UMKM di Yogyakarta.
2. Kelemahan
Jurnal
Ø Sampel
yang diambil kurang bervariatif dari berbagai sektor UMKM.
Sebagian besar responden
penelitian ini bergerak dibidang kerajinan yang bermuatan teknologi rendah,
teknologi komputer yang disebutkan tidak merujuk pada suatu aplikasi tertentu
sehingga memperkuat kelemahan metode kuisioner yang bersifat selft-reportdan dapat menyebabkan
distorsi persepsi responden atas suatu isu. Penelitian ini tidak membedakan
sektor industri dan tidak memperhatikan variabel persaingan usaha dan tekanan
kompetitor dalam pengambilan keputusan bisnis. Pengambilan keputusan adopsi
teknologi juga tidak diperhatikan dalam penelitian ini.
Ø Penelitan
tidak memperhatikan/membedakan ukuran dan kompleksitas usaha responden.
Peneliti selanjutnya
diharapkan memilih sampel lebih bervariatif dari berbagai sektor industri dan
dipisahkan berdasar segmen industri agar fenomena yang ditangkap lebih detail.
Penerapan konsep kesiapan dalam mengadopsi teknologi hendaknya memperhatikan
kompleksitas usaha dan tekanan dari pesaing sehingga dapat menjelaskan penyebab
suatu usaha mengadopsi teknologi atau tidak.
Ø Terdapat
bahasa yang berbelit – belit sehingga sulit untuk mencerna kata – kata yang
ada.
Ø Terdapat
kalimat yang tidak menggunakan spasi
Ø Saran
yang terdapat hanya saran mengenai penelitian yang dilakukan selanjutnya, tidak
terdapat saran terhadap bagaimana teknologi seharusnya kemudian diterapkan pada
umkm di Yogyakarta.
Ø Penulis
tidak memberi solusi terkait penelitian yang dilakukan.
http://library.uny.ac.id
https://journal.uny.ac.id